Sejarah Singkat Pulau Dewata, Pulau Subur di Antara Jawa dan Lombok

Tak ada yang menyangkal kalau Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata andalan dan paling populer yang dimiliki Indonesia. Meski populer di dunia internasional, tak banyak yang tahu mengenai sejarah singkat Pulau Dewata ini.

Pulau yang terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok ini memiliki luas total sekitar 5,632 km2. Di bagian tengah, lanskap Pulau Bali dihiasi dengan pegunungan dengan Gunung Agung sebagai puncak tertinggi (3.142 mdpl). Abu dari Gunung Agung inilah yang membuat tanah Bali begitu subur.

Pulau Bali Dijuluki Pulau Dewata

Pulau Bali dikelilingi oleh beberapa pulau kecil seperti Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Serangan. Baik Pulau Bali maupun pulau-pulau kecil ini memiliki pemandangan pantai yang eksotis. Tak mengherankan jika wisata pantai menjadi andalan dari Provinsi ini.

Mayoritas penduduk provinsi yang beribukota di Denpasar ini beragama Hindu. Hal inilah yang melatar belakangi Pulau Bali disebut sebagai Pulau Dewata atau Pulau Para Dewa. Dalam ajaran Hindu, dikenal banyak Dewata seperti Wanadewata, Gramadewata, Dewata Lokapala atau Dewata Nawa Sanga, Apsara dan Gandarwa.

Budaya menghormati para dewata ini seperti mempersembahkan sesaji di berbagai tempat di Pulau Bali menjadi cikal bakal munculnya julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. Hingga tahun 2014 yang lalu, jumlah masyarakat menganut agama Hindu mencapai 84,5%, sisanya adalah penganut agama lainnya seperti Islam dengan persentase mencapai 13,3%.

Asal Mula Kehidupan Masyarakat Pulau Bali

Menurut catatan sejarah, bangsa Austronesia bermigrasi dari Taiwan dan menetap di Bali sejak tahun 2.000 SM. Jika ditarik garis lurus, kita bisa menemukan bahwa budaya dan bahasa masyarakat Bali memiliki kaitan erat dengan orang-orang Oseania, Malaysia dan Filipina.

Sedangkan agama Hindu diperkirakan mulai memasuki Bali sekitar abad ke-1 Masehi. Agama Hindu yang berkembang di Pulau Bali lebih banyak dipengaruhi oleh budaya India dan China. Hal ini bisa dilihat dari adanya sembilan sekte Hindu yang berkembang masyarakat pada saat itu.

Nama Pulau Bali (Bali Dwipa) sendiri diserap dari istilah “Walidwipa” yang terdapat di prasasti Blanjong, sebuah prasasti yang ditulis oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 914 Masehi. Tradisi keagamaan, budaya dan sistem irigasi Subak juga mulai berkembang pada masa tersebut.

Pada tahun 1343, Kerajaan Hindu Majapahit membangun koloninya di Pulau Bali. Di abad ke-15, Pulau Bali kemudian menjadi jujukan para eksodus seniman, intelektual, pendeta dan musisi dari Kerajaan Majapahit yang kala itu mengalami kemunduran.

Pendudukan Belanda di Bali

Penjajah Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman  tiba di Bali pada tahun 1597. Kemudian diikuti dengan pembentukan Perusahaan India Timur Belanda di tahun 1602 membuat kendali Belanda atas Bali semakin menguat.

Pada akhir 1890-an, kerajaan-kerajaan di Bali mulai berkonflik satu sama lain sehingga menjadi kesempatan Belanda untuk memecah belah masyarakat Bali. Di antara tahun 1906 hingga 1908, terjadilah perlawanan terhadap Belanda oleh ribuan anggota keluarga kerajaan. Setidaknya lebih dari 1.000 orang meninggal dalam perlawanan tersebut.

Mulai tahun 1942, Pulau Bali mulai dikuasai oleh pasukan Jepang. Penguasaan Jepang tidak berlangsung lama, pada 1945 Belanda kembali ingin menguasai Indonesia termasuk Bali. Namun, niat tersebut ditentang oleh pemberontak Bali hingga kemudian terjadilah pertempuran di Marga Tabanan, Bali Tengah. Sayangnya semua pasukan batalion Bali seluruhnya dihapuskan pada pertempuran tersebut.

Bali kemudian menjadi salah satu dari 13 wilayah administratif Belanda di kawasan Indonesia Timur. Kemudian pada 29 Desember 1949 Bali masuk ke dalam Republik Indonesia ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

 

Share this post:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •